Indonesia Kekurangan 50.000 Insinyur

Agus Puji Prasetyono

Staf ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Meristek-Dikti) Bidang Relevansi dan Produktivitas Agus Puji Prasetyono menyatakan jika Indonesia masih sangat kekurangan tenaga insinyur sekitar 50.000 – 100.000 orang.

“Kita di Indonesia ini masih sangat kekurangan insinyur dan peluncuran program studi program profesi insinyur (PSPPI) di UMI Makassar sangat membantu,” ujar Agus Puji usai membuka program profesi insinyur Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Rabu.

Dia mengatakan, kekurangan tenaga insinyur di Indonesia itu karena kurangnya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (PTN/PTS) memiliki program profesi.

Karenanya, pihaknya mendorong program profesi insinyur di Indonesia bisa terus dibuka di semua kampus atau universitas yang memiliki fakultas teknik (FT).

“Sebenarnya kita punya banyak sarjana teknik, tapi apakah mereka itu insinyur, belum tentu. Karena, profesi insinyur itu lebih spesifik,” katanya.

Sebelumnya, berdasarkan data dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII), insinyur yang terdaftar di PII hanya 27 ribu, jumlah ini pun dianggapnya sangat sedikit.

Menurut dia, jika dikalkulasi untuk program pembangunan selama lima tahun mendatang, Indonesia masih kekurangan banyak insinyur karena penyebarannya juga tidak merata disemua daerah.

Disebutkannya, Indonesia yang saat sekarang ini terus gencar melakukan pembangunan disegala bidang terus tumbuh pesat, namun tidak disertai dengan tumbuhnya jumlah insinyur.

“Sebenarnya di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini, kekurangan insinyur justru akan merugikan kita sendiri karena orang luar negeri akan leluasa masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Agus khawatir, jika perguruan tinggi lainnya di Indonesia ini tidak membuka program profesi ini, maka bisa dipastikan industri-industri di Indonesia tidak akan menggunakan tenaga insinyur dalam negeri melainkan dari luar negeri.

“Pembangunan sumber daya manusia (SDM) harus digenjot karena jika itu tidak kita kebut, dampaknya kita bisa menjadi penonton di negeri kita sendiri di tengah berkembangnya industri saat ini,” terangnya. (Antara)

Related Blogs